Nine Centimeter God

College student, a guy, straight realist free-thinker, Demonic Pride.

Suatu Malam

Kebiasaan orang rumah gue, kalo malem itu lampu mati semua, nggak ada penerangan sama sekali kecuali lampu teras, atau, lampu-lampu yang nggak ada di dalem rumah. Jadi, penerangan nyaris nol, gelap gulita. Jadi gue, jam satu pagi, kebangun dari tidur karena haus, gue ngangkat badan, berjalan menuju pintu kamar dan jalan lagi menuju ruang makan.

Gue ambil gelas, mug tepatnya, berdiri persis di depan dispenser yang mana dibelakang gue adalah meja makan yang cukup gede dengan delapan kursi mengelilinya. Air mengalir pelan-pelan, gue pilih air panas dulu, kira-kira seperempat gelas lalu gue isi pake air biasa, hangat itu enak pas malem-malem. Dan belum setengahnya gelas itu keisi.. sensasi itu nongol lagi. Ada orang dibelakang gue.

Biasa. Gue tetep ngisi air di gelas, hampir tigaperempat sekarang, berusaha mengacuhkan keberadaan yang ada tepat di balik punggung gue, karena gue tau, kalau gue ambil pusing, pasti bakal tambah repot. Hampir penuh sekarang, dan gue sadar, gue harus berpaling ke meja kalau mau balik ke kamar gue lagi, apa iya? Iya. Dan gelas pun penuh, gue matiin keran dispenser, genggam gelas dengan mantap dan angkat, berikutnya? Gue balik badan, kearah meja makan.

Dan dia disana, di bangku yang lama, entah kapan, terakhir ada orang yang nempatin, dengan postur duduk yang lama pula nggak gue liat, diam, tertunduk. Gue baru aja mau beranjak, mengacuhkan keberadaan sejenis mereka udah jadi kudapan, karena kayak gue bilang, kalau ambil pusing, yang repot gue sendiri—tapi! Gue mulai sadar satu hal, itu dia. Gue senyum secara spontan, dia pun perlahan mengangkat kepalanya, sayang, di tempat seharusnya wajah berada hanya terlihat bayang hitam. Tapi gue tau, dia juga senyum.

Gue berjalan, kembali menghiraukan keberadaan di belakang gue—yang entah kapan bisa bertegur sapa lagi seperti malam ini. Berjalan sepanjang koridor menuju kamar, buka pintu. Dan gue ngelempar gelas.

Ada kecoak terbang, brengsek.

Yakalee

Gue duduk di depan Circle K depan kampus. Ngalor ngidul ngobrol sama senior gue di Jurusan. Topiknya macem-macem, dari kuliner yang emang kekhususan kita, sampe ke cewek. Dan begitu topik udah beranjak ke cewek, senior gue ini—yang dikenal sebagai womenizer kelas kerapu, ngasih sebuah tantangan ke gue.

“Kalo lo bisa, hape ini gue kasih ke elo.”

Tantangannya apaan?

“Kalo lo bisa tereak ‘Horeeeee’ pas lo orgasme..”

….

Yakali deh, masbro.

LATINO HEAT! Chriss Cornell, Ex-Vokalis Audioslave yang suaranya top notch, sekarang balik ke Soundgarden. Agak mirip Robert Downey Jr?

(Source: go--to--screamingelf)

1. Audioslave (301)  
2. Red Hot Chili Peppers (291)  
3. Stone Temple Pilots (179)  
4. The White Stripes (152)  
5. Linkin Park (68)  
Imported from Last.fm Tumblr by JoeLaz

Ada bekas lipstik di selangkangan gue, capnye tebel kayak stempel pemilu. Bibir sape ye?

—My mate. Made my day. *gebuk kibor*

Balada Tanda ( * )

Gue selalu heran dengan penggunaan tanda bintang ( * ) dalam sebuah kata. Maksud gue, kalo tujuan awalnya, konteksnya, udah jelas-jelas dipake hanya untuk satu kata spesifik, ngapain pake sensor?

F**k, tentunya dibaca fuck, bukannya fork, funk, fisk atau folk kan?

P*n*s tentunya dibaca penis, bukannya pants, pinks, apalagi punks to?

Kenapa susah-susah?

Then I Saw Him.. The Face of God.

Kangen Kopi

Kopiku hambar tanpamu, sayang.

Kamu tahu? Jauh darimu itu pahit, lebih pahit dari kopi di hadapanku.

Mendekat, kemari, kamu, beri rasa padaku yang tidak diberi gula.

Berhenti meminta, aku hanya menyediakan rindu yang sudah matang hampir busuk, jarak membuat pilu, waktu memberi sendu.

Pilu kelabu, matang rindu hanyir tercium jauh, mata membelalak. Itu aroma kopimu, kepulan asap rindu milikmu, menjagal hidung akan angan temu yang tak sampai di pangku.

Membeku pilar rindu. Merajut kelam abu. Mengeja kata semu. Meraja dalam kalbu, Aku dan Kamu.

16-11-2011, Bandung-Jakarta.

Itu nama panggilan? Asli? Serius ah, yang bener nama lo apa? Beneran? Bo’ong ah.. Yang bener lo?

—masih, sampe sekarang.

Inception: The Deleted Scene

Inception: The Deleted Scene