Suatu Malam
Kebiasaan orang rumah gue, kalo malem itu lampu mati semua, nggak ada penerangan sama sekali kecuali lampu teras, atau, lampu-lampu yang nggak ada di dalem rumah. Jadi, penerangan nyaris nol, gelap gulita. Jadi gue, jam satu pagi, kebangun dari tidur karena haus, gue ngangkat badan, berjalan menuju pintu kamar dan jalan lagi menuju ruang makan.
Gue ambil gelas, mug tepatnya, berdiri persis di depan dispenser yang mana dibelakang gue adalah meja makan yang cukup gede dengan delapan kursi mengelilinya. Air mengalir pelan-pelan, gue pilih air panas dulu, kira-kira seperempat gelas lalu gue isi pake air biasa, hangat itu enak pas malem-malem. Dan belum setengahnya gelas itu keisi.. sensasi itu nongol lagi. Ada orang dibelakang gue.
Biasa. Gue tetep ngisi air di gelas, hampir tigaperempat sekarang, berusaha mengacuhkan keberadaan yang ada tepat di balik punggung gue, karena gue tau, kalau gue ambil pusing, pasti bakal tambah repot. Hampir penuh sekarang, dan gue sadar, gue harus berpaling ke meja kalau mau balik ke kamar gue lagi, apa iya? Iya. Dan gelas pun penuh, gue matiin keran dispenser, genggam gelas dengan mantap dan angkat, berikutnya? Gue balik badan, kearah meja makan.
Dan dia disana, di bangku yang lama, entah kapan, terakhir ada orang yang nempatin, dengan postur duduk yang lama pula nggak gue liat, diam, tertunduk. Gue baru aja mau beranjak, mengacuhkan keberadaan sejenis mereka udah jadi kudapan, karena kayak gue bilang, kalau ambil pusing, yang repot gue sendiri—tapi! Gue mulai sadar satu hal, itu dia. Gue senyum secara spontan, dia pun perlahan mengangkat kepalanya, sayang, di tempat seharusnya wajah berada hanya terlihat bayang hitam. Tapi gue tau, dia juga senyum.
Gue berjalan, kembali menghiraukan keberadaan di belakang gue—yang entah kapan bisa bertegur sapa lagi seperti malam ini. Berjalan sepanjang koridor menuju kamar, buka pintu. Dan gue ngelempar gelas.
Ada kecoak terbang, brengsek.