Nine Centimeter God

College student, a guy, straight realist free-thinker, Demonic Pride.

Pandir

Pip pip.

Satu sms masuk, dari orang yang gue kenal baik, tulisannya yang tertera di layar membuat gue senyum konyol.

“Sorry, men, gue nyekill dulu.”

Buat orang yang pesimisan, ternyata dia nggak nyerah segampang yang gue kira. Dan kalau orang pesimis udah yakin ngelakuin sesuatu, pastinya nggak akan cepet kelar.

Kampret.

“Cappucino satu mbak, sama rokoknya yang itu.. jadi berapa?”

“20.000. Kak.”

Si mbak tersenyum, gue pun tersenyum.

Gue lalu duduk di pinggir jalan, nungguin satu-satunya orang yang bisa gue ajak ngobrol saat ini—yang ternyata malah ngabur ngecengin cewek yang ujung pangkalnya nggak jelas. Fine. Lagipula, selama gue masih berkelamin laki-laki, nggak ada waktu untuk ngebencong, tau lah, misuh-misuh nggak penting, nulis status di media sosial yang gunanya ke gue sendiri juga nggak ada.

“Fuh..”

Segel rokok gue buka, satu batang diambil, dioper ke sela bibir dan api memainkan tugasnya dengan baik. Asap putih mengepul, asap yang dalam benak gue mewujud teman imajiner, sengaja datang dari alam lain untuk menghibur dan duduk menemani gue yang emang lagi sendirian. Terima kasih.

Ngomong-ngomong.. nama gue..

“Woi! Sori gan lama, bagi rokok dong, gue punya cerita!”

Nah kan, dateng. Makanya gue cinta sama elo, deh..

  1. nine-centimeter-god posted this