Nine Centimeter God

College student, a guy, straight realist free-thinker, Demonic Pride.
Manusia itu takut.
Langkah kakinya, gerakan tangannya, arah gerak matanya, senyumnya, tawanya. Takutnya. Makhluk yang diawali dengan ketakutan, diakhiri dengan ketakutan. Pada musuh, pada teman, pada orangtua, pada anak, pada suami, pada istri, pada Tuhan, pada hal yang tak pasti.
Pada gerak mata orang lain.
“Apa dia liatin gue?”
“Apa gue ngelakuin sesuatu yang konyol?”
“Kenapa bapak itu ngeliatin gue terus? Gue mau diapain?”
Takut dinilai, takut distigma, takut dipukul rata. Takut yang irrasional, namun terasa logis. Irelevan tapi menggoda untuk diamini. Menyimpang, tapi diluruskan hingga kebablasan. Bagai ular yang berputar-putar dalam perutmu, merambat naik melalui leher dan akhirnya mencengkram kepalamu, menyentuh syaraf pikir balik, melilit otakmu sampai remuk, membuatmu dirundung ngeri tanpa alasan. Pikir ulang segala tindakan, karena takut. Pikir yang mau dibuat, karena takut. Dinilai, distigma, dipukul rata.
Pandangan mata mereka, orang lain, yang tak akan lepas bahkan saat kamu menutup mata. Menghantui sampai ketidaksadaran, membantai mimpimu sampai nafas terhela berat, melemaskan lutut, menghantam dada. Dan bangun dengan mata basah menetes.
Dan hari baru pun dimulai, dengan rasa takut.
_
__
___
__
_
Credit to Priska untuk doodlenya.

Manusia itu takut.

Langkah kakinya, gerakan tangannya, arah gerak matanya, senyumnya, tawanya. Takutnya. Makhluk yang diawali dengan ketakutan, diakhiri dengan ketakutan. Pada musuh, pada teman, pada orangtua, pada anak, pada suami, pada istri, pada Tuhan, pada hal yang tak pasti.

Pada gerak mata orang lain.

“Apa dia liatin gue?”

“Apa gue ngelakuin sesuatu yang konyol?”

“Kenapa bapak itu ngeliatin gue terus? Gue mau diapain?”

Takut dinilai, takut distigma, takut dipukul rata. Takut yang irrasional, namun terasa logis. Irelevan tapi menggoda untuk diamini. Menyimpang, tapi diluruskan hingga kebablasan. Bagai ular yang berputar-putar dalam perutmu, merambat naik melalui leher dan akhirnya mencengkram kepalamu, menyentuh syaraf pikir balik, melilit otakmu sampai remuk, membuatmu dirundung ngeri tanpa alasan. Pikir ulang segala tindakan, karena takut. Pikir yang mau dibuat, karena takut. Dinilai, distigma, dipukul rata.

Pandangan mata mereka, orang lain, yang tak akan lepas bahkan saat kamu menutup mata. Menghantui sampai ketidaksadaran, membantai mimpimu sampai nafas terhela berat, melemaskan lutut, menghantam dada. Dan bangun dengan mata basah menetes.

Dan hari baru pun dimulai, dengan rasa takut.

_

__

___

__

_

Credit to Priska untuk doodlenya.