Untung Rugi
Nada-nada klasik mengalun dari speaker kelas tiga di kamar, nggak asing, apalagi sih kalau bukan petikan gitar apik dari John Frusciante dan suara merdu Anthony Kiedis. Red Hot Chilli Peppers, yang lagu-lagunya selalu nemenin gue dari saat gue mulai bisa menyimpan sesuatu ke dalam memori gue. Kelas dua SD kalau nggak salah, dan semenjak itu pula lagu mereka nggak pernah lepas dari kehidupan gue, selalu ada, selalu berputar—yang kalau nggak di komputer, mp3, ya di kepala gue sendiri.
Monoton, stagnan, selera oom-oom, yang penting gue bisa menikmatinya toh.
Ha..
Nyalain rokok lagi, dan mengetik tulisan yang arahnya nggak tau dibawa kemana, sedangkan ada tugas yang nunggu untuk gue kerjain, apalah. Mungkin gue lagi berusaha, untuk ngilangin segala yang bikin khawatir, segala beban pikiran, segala bentuk tindihan mental. Soalnya, kalo mikirin itu semua, hidup nggak akan nyenengin. Sepi mungkin iya sebagai efek, tapi lebih baik sepi toh daripada harus suram durjana? Jangankan ngejalanin yang suram, yang liat juga nggak enak. Soalnya lo tau? Setiap orang itu punya tanggung jawab moral wajib, bentuknya? Gimana lo ngejaga kondisi psikis lo untuk tetap stabil,
Kenapa? Karena ketika orang laen ngeliat lo muram, bawaannya nyebelin, mau ketawa nggak bisa, mau guyon susah, yang ada malah ikutan suram.
Uniknya homo sapiens, semua hal yang mereka lakuin itu tujuannya cuma satu, benefit dirinya sendiri. Oh sori, jangan gampar gue pake cap pukul rata, tapi faktanya, bahkan ketika seseorang berkorban untuk orang lain, apa itu emang untuk orang lain? Atau untuk dirinya sendiri agar dia ngerasa puas? Yeap, untuk orang lain demi dirinya sendiri. Dan gue nggak bilang ini bentuk hipokritisme, pengorbanan, rasa altruisme kepada orang lain, filantropi, emang bertujuan untuk ngebantu orang lain, yip, untuk ngebuat dirinya puas. Gampar gue deh.
Kalo gitu, kenapa orang bisa nikah? Bersama dengan pasangannya seumur hidup, yang laki-laki nyari duit pecut daging buat makan anak istrinya, dan si istri sukarela jadi pembantu dan cleaning service multi purpose? Kembali ke poin awal, benefit. Kalo si suami nggak nyari duit, layanan pembantu rumah tangganya bisa pulang ke rumah mertua, dan kalau si istri nggak ngelakuin servis PRT-nya, bisa-bisa dia nggak dapet makan. Apa semurah itu? Ya nggak, di dunia kita ini, dikenal sebuah kata mejik, absurd, surreal, tapi ada dan nyata.
Namanya cinta.
Halah. Peduli, tapi nggak peduli. Hidup itu film, dimana kita yang jadi peran utama, dimana elo adalah mata hari dan benda-benda langitnya mengorbit di sekitar lo, sisanya tinggal opsi-opsi yang bisa lo pilih. Mau rekresional, atau pake gaya era Hollocaust?