Kenyataan
“Nonsense!”
Dengan suara lantang berlapis senyum sinis, seorang lelaki awal tigapuluhan menanggapi lelaki lain. Dua orang kawan lama, erat, menghabiskan sore yang berjalan lambat di sebuah kedai kopi pinggiran jalan. Ditemani dua cangkir kopi hitam pekat tanpa gula, dua bungkus rokok yang berlomba dihabiskan, dan obrolan santai yang mengiringi hari menjemput gelap. Lelaki pertama menghisap rokoknya dalam, menghembuskannya lewat mulut dan ditangkap kembali melalui hidung, sebelum melanjutkan jawabannya.
“Kayak yang gue bilang sebelumnya, argumen lo itu nggak valid.”
“Jon, kita bicara hal yang metafisik disini, kalo bicara hal valid, kita balik ke kelas matematik dulu.”
“Nah itulah, makanya gue bilang nonsense. Bukti itu penting, bukti itu yang masukin orang kedalam penjara dalam ranah hukum, kalo gak ada aturan baku dari apa yang lo bilang, gue bisa tau darimana kalo yang lo bilang itu bener atau salah?”
Lelaki yang lain menghela nafas panjang, mengalihkan arah pandang dari orang didepannya, lalu menyesap cangkir kopinya perlahan. Pahit, tapi nikmat, merangsang saraf-sarafnya untuk berkata, mengumpulkan tenaga untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
“Jon, semua tertulis dalam kitab, disusun sama pendahulu elo, orang-orang yang hidup sebelum ngkong lo lahir, makanya—“
“—karena gue bahkan belom lahir makanya gue nggak bisa percaya! Gue gak disana.”
“Ck.. denger gue dulu napa.”
“Oke-oke.. oke, Ndra, gue dengerin.”
Johnny, kepala batu, hati besi, kemungkinan menang argumen melawan orang yang satu ini dibawah dua persen. Kemungkinan kalah berargumen yang dua persen, tentu saja didukung oleh perempuan bodi semlohai, atau nenek-nenek yang tidak mungkin berhenti bicara karena dia tidak mendengar bantahan yang ia keluarkan. Ha.. Johnny terkekeh, Candra masam.
“Sekarang pikir, segala hal yang ada di dunia ini, bumi yang sebegini besar, alam semesta yang bahkan luasnya nggak keukur, orang-orang dengan segala kerumitan struktur biologisnya, otaknya. Apa lo pikir nggak ada yang nyiptain? Kebetulan-kebetulan yang luarbiasa yang ada di dunia ini terjadi begitu aja?”
Johnny kembali menghisap rokoknya, masih senyum—sinis. Puntung ia sentil masuk ke asbak. Ke dalam lautan rokok yang telah gugur menjalankan tugasnya dengan baik.
“Kayak yang lo bilang.. emang cuma kebetulan.”
“Doang?”
“Iya, doang, tau teori big bang kan? Lucu kalo lo bilang Tuhan menciptakan dunia dalam tujuh hari, milyaran tahun, oi!—dan jangan bilang kalo tujuh hari di kitab lo itu adalah relativitas waktunya Tuhan, soalnya einstein belom lahir waktu itu.”
“Elah Jon..”
“Gini deh Ndra, kalo lo mau ngeyakinin gue dengan teori ketuhanan elo, jangan bawa-bawa dunia, jangan bawa-bawa sains, dari sananya aja lo udah salah, nggak bisa sains lo hubungin dengan apa yang lo sebut dengan agama, eksak sama sureal sampe kapan juga nggak akan sinkron. Men, kita udah bareng kelamaan, aneh kalo lo masih protes dengan apa yang gue yakin sampe sekarang.”
“…”
Sahutnya panjang, Candra diam, dia tahu kalau dirinya bukan orang yang religius, tapi hati kecilnya tidak bisa menerima teman mainnya dari masih ngempeng sampai sekarang tidak punya kepercayaan. Ia meneguk kopinya yang mulai dingin, curi-curi menatap sahabatnya yang juga menatap balik.
“Gini loh Jon—“ ia meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja.
“Ndra, stop deh. Sekarang gue balik nanya, kenapa di dunia ini masih ada yang namanya orang jahat? Kelaparan? Perang?”
“Karena ada manusia yang jahat. Kalo maksud lo adalah kenapa Tuhan nyiptain kejahatan, gue nggak setuju. Yang jahat itu manusia, bukan Tuhan. Tuhan ngasih kita yang namanya pilihan, kehendak bebas, kita—manusia, bebas milih mau ikut jalan yang mana? Jalan Tuhan? Yang berujung ke surga, atau mau berbuat jahat demi kepentingan pribadinya? Itu semua kembali ke—“
“—pribadi masing-masing? Retoris banget.”
“Tai.”
“Makanya gue bilang, otak lo nggak muter pada porosnya, Ndra. Lucu dong, kalo lo-lo pada, yang beragama bilang kalo Tuhan itu omnipotence, omniscient, benevolent, kalo pada prakteknya dia ngebiarin yang namanya ‘jahat’ itu ada? Katanya mahakuasa, tapi nggak bisa ngehentiin kejahatan, katanya mahapengasih, tapi diem aja ngeliat orang mati kelaperan, katanya mahatahu, tapi apa yang dia lakuin waktu tau bakalan ada perang yang mau pecah? Dihentiin? Kagak!”
“Oi oi Jon..”
Candra protes, Johnny masih lanjut.
“Terus kalo dia jahat, dia masuk neraka? Disiksa secara abadi terus menerus? Dengan modal mahapengasihnya apa dia tega masukin ciptaannya sendiri ke neraka? Kalo dia mahakuasa, kenapa nggak hentiin itu orang berbuat jahat? Dengan gitu, nggak ada yang perlu masuk neraka, nggak ada yang perlu disiksa! Bahkan.. gue kira yang namanya neraka itu nggak usah diciptain.”
“Jon.”
“Gue belom beres, Ndra. Agama lo bilang, Tuhan itu nggak bisa berdosa, tapi juga mahatahu? Gimana dia tau kalo yang namanya babi itu haram sementara dia nggak pernah nyicip?”
“JON!”
“APA?”
Candra setengah berdiri, kopinya tumpah tersenggol. Emosinya meledak, nyaris ia melempar puntung rokok ke wajah kawan lamanya. Nafasnya memburu walau ia tidak berlari, sementara Johnny membelalak, menahan nafas terkejut, tak menyangka reaksi sahabatnya bisa sebegitu hebat. Ia tahu kalau topik yang ia bahas sensitif, tapi reaksi teman seumur hidupnya tak ia duga sebelumnya.
“Stop.”
Candra berkata. Ia menarik nafas panjang menenangkan dirinya sendiri, kembali duduk di kursinya, lalu menyalakan rokok, setelah batang rokok yang sebelumnya terbuang entah kemana.
“Gue tau, Jon, lo kehilangan. Tapi Marta juga nggak pengen lo begini!”
Salah.. satu kalimat yang sepenuhnya salah. Lelaki satu ini dikenal berkepala besi, bawa tema apapun dalam obrolan, apapun, asal bukan satu hal, istrinya—lebih tepat, mantan istrinya. Matanya menegas, nafasnya memburu, dan senyuman yang selalu menghiasi wajah kerasnya menghilang, diganti oleh murka yang tersembunyi. Tertuju tepat kepada sahabatnya.
“Apa lo bilang? Apa yang Marta pengen? Lo tau apa soal yang dia pengen? Lo kenal dia berapa taun?”
“Jon, sori.”
“Lo tanya ama gue apa yang dia pengen? Dia pengen ketawa tanpa perlu rasa sakit di perutnya, dia pengen nggak kena kanker! Dia nggak pengen mati! Dia nggak pengen gue ngelempar tanah ke peti matinya dia! Dia masih pengen bareng gue! ITU, YANG DIA PENGEN KALO LO MAU TAU.”
Brak
Kepalan tangannya menghantam meja keras, pengunjung lain menengok. Johnny diam, wajahnya tertunduk menatap lantai, begitu juga dengan Candra, hening tanpa suara selama beberapa saat, sampai pemilik kedai datang menghampiri.
“Maaf pak.. ada masalah?”
“Nggak, nggak ada mas, maaf bikin ribut.”
Kata Candra.. dan si pemilik pun senyum dengan pesan tersungging ‘tolong-jangan-bikin-onar’ di keningnya. Ia menatap sahabatnya yang tertunduk, tangannya masih mengepal keras diatas meja bergetar. Kata-kata tak akan berarti, tapi seseorang harus memulai.
“Sori Jon, sama sekali nggak maksud.”
“Ndra.. kalau emang Tuhan itu ada, gue yakin.. dia itu cuma anak kecil yang lagi maenan sama kotak semutnya.. sok ngatur, sok kuasa, padahal nggak tau apa-apa.”
Ia mengangkat wajahnya, pilu, senyumnya sudah tak berbekas, digantikan oleh wajah lain yang selalu ia sembunyikan. Tapi tak ada air mata. Candra mengerti, ia hanya diam saja melihat sahabatnya, lebih baik begitu, diam. Kata apapun yang keluar dari mulutnya hanya akan memperburuk keadaan. Ia mengenang, dua tahun sudah Marta meninggal karena kanker lambung, pukulan telak bagi Johnny, hidupnya tak pernah sama lagi. Terutama soal kepercayaan.
“Dia baik, Ndra, dia nggak pernah lewat beramal ketika sempat, dia bantu orang miskin, dia kerja sukarela ketika diminta untuk ngebantu orang-orang yang kena bencana. Dia selalu senyum, Ndra, bahkan semut pun nggak tega dia injek. Aneh kan? Tuhan itu aneh, lebih lagi, dia nggak tau apa-apa.”
Ia bangkit dari duduknya, menatap sahabatnya sekilas.
“Gue duluan, Ndra.”
Johnny melengos, melewati deretan kursi, menyenggol orang-orang dimana langkahnya berpijak, menghampiri kasir lalu memberikan uang tanpa meminta kembalian. Candra diam, tak ada yang bisa ia perbuat melihat sahabatnya dalam kondisi seperti itu. Ia menghela nafas sementara Johny melangkah membuka pintu kedai, menyebrang jalan menuju tempat mobilnya diparkir.
BRAK!
“JON!”
Klakson keras terdengar, tapi tak diindahkan, suara merdu tulang patah terhantam nyaring di telinga, tidak ada jerit, tidak ada reaksi, singkat.
Candra berlari, melewati deretan kursi, melewati pintu kedai yang bahkan belum menutup, melewati orang-orang yang melihat kearah tempat ia menuju. Ke jalan, ke aspal yang banjir oleh darah segar, ke sahabatnya yang tak lagi berbentuk.
Dan semua menjadi gelap.
===
Ia bangun. Di tengah sebuah ruangan besar berpenerangan redup, berhias ornamen-ornamen dari berbagai zaman ada disana, renaisans, medieval, klasik, modern, bercampur dalam variasi yang tidak bisa dibayangkan. Rancu. Sebuah pintu besar bergagang ganda mencuri perhatiannya, tepat di tengah ruangan dimana matanya mengarah. Dan baru saja selangkah ia mendekati pintu tersebut, sebuah suara mencuri perhatiannya, menghentikan kaki-kaki yang batal terangkat.
Suara langkah, seperti tapal kuda, tapi dengan ritmik langkah manusia, dua kaki, menggema hebat seolah tidak ada suara lain yang berhak muncul selain langkah tersebut. Awalnya samar, samar, tapi mendekat. Dipastikan, bahwa langkah kaki tersebut mendekati ruangan ini. Johnny hanya bisa menatap pintu tersebut, tubuhnya kaku, ingin lari tapi tidak ada satupun otot di badannya yang menginzinkan. Ia hanya menunggu, menunggu langkah kaki di seberang pintu mendekat dan semakin dekat sampai akhirnya terhenti. Tepat di belakang pintu. Gugup, keringat dingin mengalir deras.
Pintu terbuka, sesaat kemudian sesosok manusia masuk, berkepala Jackal, berbadan manusia tapi berkaki kambing, berpakaian lengkap. Di tangannya sebuah buku terangkul erat. Perut Johnny mulas, tengkuknya meremang, kakinya gemeletukan. Sementara sosok tadi menatap Johnny tajam, matanya kuning terang bercahaya. Seringai serigala nampak melewati celah moncong dimana seharusnya mulut berada.
“Jadi..”
Sosok itu bersuara dengan parau, berat. Seperti suara kakek-kakek yang menghabiskan masa hidupnya dengan merokok tanpa henti.
“…Gue itu anak kecil dengan kotak semut?”
“…”
“Mampus gue.”